Hati yang selesai

Hati yang selesai
Hanya 120 ribu saja, gratis ongkir Jawa Bali. Pesan via WA 0813 8769 9725.

Panic Buying

Panic Buying adalah gabungan kata dalam Bahasa Inggris. Kalau di dalam bahasa Inggris biasanya susunannya  berkebalikan dengan bahasa Indonesia. Ada istilahnya diterangkan dan menerangkan.  Kalau dialihbahasakan berarti  menjadi pembelian panik. Tetapi sepertinya aneh gabungan kata dalam bahasa Indonesia ini. Seolah-olah panik adalah   benda, padahal bukan.


Panic adalah keadaan gugup, takut dan tidak bisa tenang. Sedangkan buying maksudnya adalah kegiatan membeli. Panic Buying ataupun Pembelian Panik secara bebas bisa saya artikan sebagai kegiatan belanja dalam jumlah besar sebagai  persediaan untuk beberapa periode waktu ke depan karena didasari rasa khawatir  ataupun takut. Rasa khawatir ataupun takut ini bermacam alasannya antara lain karena akan adanya kenaikan harga, adanya bencana alam, wabah dan sebagainya.

Setelah otoritas negara secara resmi mengumumkan adanya warga negara Indonesia yang terkena virus Corona ataupun covid-19 untuk pertama kalinya, maka terjadilah apa yang disebutkan dengan Panic buying tersebut. Banyak orang yang membeli dalam jumlah banyak, tidak seperti biasanya. Di bermacam supermarket mereka memborong aneka kebutuhan yang dianggap penting. Antara lain yang dibeli adalah mi instant dalam bentuk kartonan hingga penuh  satu troli belanja. Begitu juga dengan beras dan minyak goreng. Hingga belanjaan orang-orang ini mengalahkan warung pojok kampung yang ala kadarnya.

Salah satu produk yang kemudian banyak dicari adalah tisu basah (wipes), menyusul sebelumnya ada hand sanitizer dan masker. Benda-benda tersebut  berkaitan dengan kebersihan , higienitas tangan dan perlindungan dari virus. Produk yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok tersebut juga tak luput dari aksi borong orang-orang yang panik.

Aksi belanja secara borongan ini tidak hanya terjadi sekali saja. Setelah pengumuman adanya pasien virus Corona untuk yang pertama, sebenarnya sudah surut aksi tersebut. Tetapi ketika wabah Corona memasuki area Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta tempat saya tinggal, aksi tersebut kembali terjadi. Hal ini juga dipengaruhi oleh saran pemerintah untuk mengurangi kegiatan di luar rumah, berkerumun ataupun berinteraksi dengan banyak orang.

Mengenai kepanikan, yang saya lihat justru dialami oleh orang-orang yang mempunyai  uang  yang banyak alias orang kaya. Terutama kepanikan berbelanja. Jelaslah , orang dengan penghasilan yang biasa-biasa saja tidak mungkin ikut-ikutan melakukan aksi borongan,  tidak perlu dijelaskan. Maksud saya sebenarnya bukan tentang itu, tetapi tentang mental. Walaupun sebenarnya saling berkaitan. Bahwa orang yang terbiasa segala kebutuhannya tercukupi, akan mudah panik ketika ada potensi untuk tidak tercukupi, walaupun baru sekedar isu.

Berkaitan dengan adanya berbagai reaksi atas segala macam kejadian, samar-samar saya teringat suatu kalimat yang saya baca. Bahwa salah satu ciri orang beriman adalah selalu tenang.

Salam!

Belum ada Komentar untuk "Panic Buying"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel