Panic Buying
Panic Buying adalah gabungan kata dalam Bahasa Inggris.
Kalau di dalam bahasa Inggris biasanya susunannya berkebalikan dengan bahasa Indonesia. Ada istilahnya
diterangkan dan menerangkan. Kalau
dialihbahasakan berarti menjadi
pembelian panik. Tetapi sepertinya aneh gabungan kata dalam bahasa Indonesia
ini. Seolah-olah panik adalah benda,
padahal bukan.
Panic adalah keadaan gugup, takut dan tidak bisa tenang.
Sedangkan buying maksudnya adalah kegiatan
membeli. Panic Buying ataupun Pembelian Panik secara bebas bisa saya artikan sebagai
kegiatan belanja dalam jumlah besar sebagai
persediaan untuk beberapa periode waktu ke depan karena didasari rasa
khawatir ataupun takut. Rasa khawatir
ataupun takut ini bermacam alasannya antara lain karena akan adanya kenaikan
harga, adanya bencana alam, wabah dan sebagainya.
Setelah otoritas negara secara resmi mengumumkan
adanya warga negara Indonesia yang terkena virus Corona ataupun covid-19 untuk
pertama kalinya, maka terjadilah apa yang disebutkan dengan Panic buying
tersebut. Banyak orang yang membeli dalam jumlah banyak, tidak seperti
biasanya. Di bermacam supermarket mereka memborong aneka kebutuhan yang
dianggap penting. Antara lain yang dibeli adalah mi instant dalam bentuk
kartonan hingga penuh satu troli
belanja. Begitu juga dengan beras dan minyak goreng. Hingga belanjaan
orang-orang ini mengalahkan warung pojok kampung yang ala kadarnya.
Salah satu produk yang kemudian banyak dicari adalah
tisu basah (wipes), menyusul sebelumnya ada hand sanitizer dan masker. Benda-benda
tersebut berkaitan dengan kebersihan ,
higienitas tangan dan perlindungan dari virus. Produk yang sebenarnya bukan
kebutuhan pokok tersebut juga tak luput dari aksi borong orang-orang yang panik.
Aksi belanja secara borongan ini tidak hanya terjadi
sekali saja. Setelah pengumuman adanya pasien virus Corona untuk yang pertama,
sebenarnya sudah surut aksi tersebut. Tetapi ketika wabah Corona memasuki area
Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta tempat saya tinggal, aksi tersebut
kembali terjadi. Hal ini juga dipengaruhi oleh saran pemerintah untuk
mengurangi kegiatan di luar rumah, berkerumun ataupun berinteraksi dengan
banyak orang.
Mengenai kepanikan, yang saya lihat justru dialami
oleh orang-orang yang mempunyai uang yang banyak alias orang kaya. Terutama kepanikan
berbelanja. Jelaslah , orang dengan penghasilan yang biasa-biasa saja tidak
mungkin ikut-ikutan melakukan aksi borongan, tidak perlu dijelaskan. Maksud saya sebenarnya
bukan tentang itu, tetapi tentang mental. Walaupun sebenarnya saling berkaitan.
Bahwa orang yang terbiasa segala kebutuhannya tercukupi, akan mudah panik ketika
ada potensi untuk tidak tercukupi, walaupun baru sekedar isu.
Berkaitan dengan adanya berbagai reaksi atas segala
macam kejadian, samar-samar saya teringat suatu kalimat yang saya baca. Bahwa salah
satu ciri orang beriman adalah selalu tenang.
Salam!

Belum ada Komentar untuk "Panic Buying"
Posting Komentar