Hati yang selesai

Hati yang selesai
Hanya 120 ribu saja, gratis ongkir Jawa Bali. Pesan via WA 0813 8769 9725.

Gelap terang masa pandemi


Diibaratkan kita ini sedang berjalan dalam kegelapan. Berjalan sambil meraba, dengan waspada dan hati-hati , tidak mengerti mana yang bahaya dan  mana yang aman.  Virus ini misterius, kita tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Kita tidak bisa mencium aromanya ataupun melihat wujudnya. Kita hanya bisa mengusahakan  upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19 ini.


Konon, virus ini bisa hidup di benda mati  dengan umur yang berbeda-beda. Pada jenis bahan yang berbeda, berbeda pula umur bertahannya. Misalnya di kain  bertahan berapa jam,  di kertas berapa jam, dan lain sebagainya. Perpindahan  atau penyebaran virus ini adalah melalui kontak fisik, ataupun bersentuhan. Jadi, kalau kita cermati, seberapa lama virus itu mampu bertahan, yang terpenting adalah kita selalu cuci tangan. Ya, cuci tangan adalah kuncinya. Belum ada informasi yang menyebutkan bahwa virus ini bisa menular melalui udara. Tentu akan lebih berbahaya  jika  itu terjadi.


Dalam kondisi seperti sekarang ini, kita dipaksa untuk menurunkan ego kita, maksudnya jangan egois. Bisa saja, seseorang yang merasa aman bergerak leluasa seperti bukan pada  masa pandemic ini. Tetapi kita punya kewajiban untuk menghormati orang lain dengan menjalankan aturan yang dianjurkan. Kita menyadari bahwa kita adalah makhluk sosial. Harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan banyak orang.

Sebenarnya tidaklah berbeda sewaktu ada virus ini ataupun sedang tidak ada. Kita memang harus selalu menjaga kebersihan, menjaga jarak dan lain sebagainya. Tetapi di masa seperti ini kita “dipaksa” untuk lebih tertib. Mungkin karena kita memang sembrono dan menganggap remeh hal-hal yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban. Dahulu, yang saya ketahui setiap rumah mempunyai padhasan  di depan ataupun di samping rumah. Padhasan adalah wadah air yang biasa untuk “wisuh” atau berwudhu, yang terbuat dari tanah liat. Generasi simbah kita selalu mengingatkan untuk  selalu  “wisuh” setelah bepergian.

Ada 2 sisi yang bisa kita baca. Di satu sisi , kita telah mendapat janji ataupun jaminan dari Allah tentang kesehatan, kesejahteraan dan sebagainya. Bahwa tidak ada satu binatang melata-pun  di bumi melainkan rezekinya telah  ditetapkan oleh Allah. Sementara di sisi lain kita harus berpikir nyata, bahwa bisa terjadi kesulitan dalam ekonomi. Kita sendiri yang bergerak, berusaha secara nyata, untuk melanjutkan hidup.

Salam!

Belum ada Komentar untuk "Gelap terang masa pandemi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel