Gelap terang masa pandemi
Diibaratkan kita ini sedang berjalan dalam kegelapan.
Berjalan sambil meraba, dengan waspada dan hati-hati , tidak mengerti mana yang
bahaya dan mana yang aman. Virus ini misterius, kita tidak bisa
mendeteksi keberadaannya. Kita tidak bisa mencium aromanya ataupun melihat
wujudnya. Kita hanya bisa mengusahakan
upaya pencegahan penularan virus corona atau Covid-19 ini.
Konon, virus ini bisa hidup di benda mati dengan umur yang berbeda-beda. Pada jenis
bahan yang berbeda, berbeda pula umur bertahannya. Misalnya di kain bertahan berapa jam, di kertas berapa jam, dan lain sebagainya.
Perpindahan atau penyebaran virus ini
adalah melalui kontak fisik, ataupun bersentuhan. Jadi, kalau kita cermati, seberapa
lama virus itu mampu bertahan, yang terpenting adalah kita selalu cuci tangan. Ya,
cuci tangan adalah kuncinya. Belum ada informasi yang menyebutkan bahwa virus
ini bisa menular melalui udara. Tentu akan lebih berbahaya jika
itu terjadi.
Dalam kondisi seperti sekarang ini, kita dipaksa untuk
menurunkan ego kita, maksudnya jangan egois. Bisa saja, seseorang yang merasa
aman bergerak leluasa seperti bukan pada
masa pandemic ini. Tetapi kita punya kewajiban untuk menghormati orang
lain dengan menjalankan aturan yang dianjurkan. Kita menyadari bahwa kita
adalah makhluk sosial. Harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan banyak
orang.
Sebenarnya tidaklah berbeda sewaktu ada virus ini
ataupun sedang tidak ada. Kita memang harus selalu menjaga kebersihan, menjaga
jarak dan lain sebagainya. Tetapi di masa seperti ini kita “dipaksa” untuk
lebih tertib. Mungkin karena kita memang sembrono dan menganggap remeh hal-hal
yang sebenarnya sudah menjadi kewajiban. Dahulu, yang saya ketahui setiap rumah
mempunyai padhasan di depan ataupun di
samping rumah. Padhasan adalah wadah air yang biasa untuk “wisuh” atau
berwudhu, yang terbuat dari tanah liat. Generasi simbah kita selalu
mengingatkan untuk selalu “wisuh” setelah bepergian.
Ada 2 sisi yang bisa kita baca. Di satu sisi , kita
telah mendapat janji ataupun jaminan dari Allah tentang kesehatan,
kesejahteraan dan sebagainya. Bahwa tidak ada satu binatang melata-pun di bumi melainkan rezekinya telah ditetapkan oleh Allah. Sementara di sisi lain
kita harus berpikir nyata, bahwa bisa terjadi kesulitan dalam ekonomi. Kita
sendiri yang bergerak, berusaha secara nyata, untuk melanjutkan hidup.
Salam!

Belum ada Komentar untuk "Gelap terang masa pandemi"
Posting Komentar