Hati yang selesai

Hati yang selesai
Hanya 120 ribu saja, gratis ongkir Jawa Bali. Pesan via WA 0813 8769 9725.

Kata sebagai senjata


Setiap hari, dalam kehidupan sehari-hari kita pasti berkata-kata. Baik itu secara lisan atau melalui tulisan. Bahkan dalam diam sekalipun manusia tetap berkata-kata, dalam batin. Kata merupakan pernyataan kesatuan perasaan dan pikiran yang bisa digunakan  dalam berbahasa. Rangkaian kata bisa menggambarkan suasana atau menjabarkan peristiwa.

Bermacam ilustrasi kejadian dan cerita disampaikan dengan kata, termasuk dalam kitab suci. Tuhan memberi kita otak dan akal agar kita  bisa paham pada kata. Sebagian besar ilmu disampaikan  dengan kata.

Kata-kata bisa meracuni manusia. Kata , bisa mengarahkan pandangan dan pola pikir masyarakat. Kata bisa digunakan sebagai senjata , untuk kebaikan dan kebenaran. Kata bisa digunakan  mengajak , mendidik anak-anak ataupun dewasa untuk berakhlak mulia. Membentuk pola perilaku yang sehat dalam keseharian . Mengajarkan ilmu yang semoga bermanfaat dan semacamnya.

Kata juga bisa untuk mengelabuhi, menipu dan semacamnya. Kita ambil saja kata “halal” dan “syariah”. Sepertinya tidak ada yang aneh dengan kedua kata tersebut. Tetapi, cobalah kita bedah sedikit tentang kata-kata itu. Idealnya, penggunaan label halal adalah ketika sebagian besar berpotensi haram, maka dibutuhkan  penegasan bahwa inilah yang halal. Yang seharusnya tidak perlu menggunakan label halal, kini telah diberi label halal. Tidak hanya dalam bidang makanan dan minuman yang dikonsumsi, bahkan pakaianpun diberi label tersebut. seolah-olah , jika telah diberi label tersebut maka sudah diridhoi Tuhan. Begitu juga dengan kata “syariah”, padahal itu adalah bahasa manca yang berarti aturan. Belum jelas apakah itu aturan secara Islam atau bagaimana.

Kata juga bisa sebagai senjata. Kata-kata yang ditulis dalam buku bisa menguasai pembacanya. Menjadikan satu gairah baru, membakar semangat, merubah cara pandang dan sebagainya. Sehingga bisa saja, revolusi terjadi karena diawali dengan membaca buku.

Kata juga bisa menjadi sumber pertengkaran. Kata yang bersifat menghasut, bisa menyulut amarah, membuat 2 orang bisa  bertengkar, 2 kubu bisa saling serang. Semua itu disebabkan oleh kata yang provokatif.
Kata juga bisa dijadikan sebagai  bahan untuk pencitraan semu. Membuat rangkaian kata, sebagai penegasan inilah kami, inilah saya. Padahal itu cuma bungkus yang apik untuk menutupi kenyataan yang ada. Biasanya ini terjadi dalam dunia politik untuk meraih simpati.

Demikianlah tentang kata. Marilah kita belajar banyak tentang kata, agar tidak dikuasai  oleh kata dan juga katanya.

Salam!

Belum ada Komentar untuk "Kata sebagai senjata"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel