Kata sebagai senjata
Setiap hari, dalam kehidupan sehari-hari kita pasti
berkata-kata. Baik itu secara lisan atau melalui tulisan. Bahkan dalam diam
sekalipun manusia tetap berkata-kata, dalam batin. Kata merupakan pernyataan
kesatuan perasaan dan pikiran yang bisa digunakan dalam berbahasa. Rangkaian kata bisa
menggambarkan suasana atau menjabarkan peristiwa.
Bermacam ilustrasi kejadian dan cerita disampaikan
dengan kata, termasuk dalam kitab suci. Tuhan memberi kita otak dan akal agar
kita bisa paham pada kata. Sebagian
besar ilmu disampaikan dengan kata.
Kata-kata bisa meracuni manusia. Kata , bisa
mengarahkan pandangan dan pola pikir masyarakat. Kata bisa digunakan sebagai
senjata , untuk kebaikan dan kebenaran. Kata bisa digunakan mengajak , mendidik anak-anak ataupun dewasa
untuk berakhlak mulia. Membentuk pola perilaku yang sehat dalam keseharian .
Mengajarkan ilmu yang semoga bermanfaat dan semacamnya.
Kata juga bisa untuk mengelabuhi, menipu dan
semacamnya. Kita ambil saja kata “halal” dan “syariah”. Sepertinya tidak ada
yang aneh dengan kedua kata tersebut. Tetapi, cobalah kita bedah sedikit
tentang kata-kata itu. Idealnya, penggunaan label halal adalah ketika sebagian
besar berpotensi haram, maka dibutuhkan
penegasan bahwa inilah yang halal. Yang seharusnya tidak perlu
menggunakan label halal, kini telah diberi label halal. Tidak hanya dalam
bidang makanan dan minuman yang dikonsumsi, bahkan pakaianpun diberi label
tersebut. seolah-olah , jika telah diberi label tersebut maka sudah diridhoi
Tuhan. Begitu juga dengan kata “syariah”, padahal itu adalah bahasa manca yang
berarti aturan. Belum jelas apakah itu aturan secara Islam atau bagaimana.
Kata juga bisa sebagai senjata. Kata-kata yang ditulis
dalam buku bisa menguasai pembacanya. Menjadikan satu gairah baru, membakar
semangat, merubah cara pandang dan sebagainya. Sehingga bisa saja, revolusi
terjadi karena diawali dengan membaca buku.
Kata juga bisa menjadi sumber pertengkaran. Kata yang
bersifat menghasut, bisa menyulut amarah, membuat 2 orang bisa bertengkar, 2 kubu bisa saling serang. Semua itu
disebabkan oleh kata yang provokatif.
Kata juga bisa dijadikan sebagai bahan untuk pencitraan semu. Membuat rangkaian
kata, sebagai penegasan inilah kami, inilah saya. Padahal itu cuma bungkus yang
apik untuk menutupi kenyataan yang ada. Biasanya ini terjadi dalam dunia politik
untuk meraih simpati.
Demikianlah tentang kata. Marilah kita belajar banyak
tentang kata, agar tidak dikuasai oleh
kata dan juga katanya.
Salam!

Belum ada Komentar untuk "Kata sebagai senjata"
Posting Komentar