Melawan Corona ala Nusantara
Sejak persebaran virus Corona yang semakin pesat
meluas di berbagai negara, beberapa negara mulai menerapkan lockdown. Lockdown
adalah mengunci suatu kawasan untuk mencegah masyarakatnya berpindah, masuk
ataupum keluar. Keputusan untuk menerapkan lockdown ini secara resmi berada di
otoritas tertinggi negara, misalnya Presiden. Belakangan muncul istilah dalam
bahasa Indonesia yaitu ” Karantina Wilayah “
yang kurang lebih maksudnya juga
sama.
Ada beberapa negara di dunia yang telah menerapkan
lockdown di antaranya Tiongkok, Italia dan Spanyol. Sedangkan di Tanah Air
Indonesia Adil Sejahtera untuk semua, Presiden tidak ataupun belum menyatakan
secara jelas bahwa negara menerapkan lockdown. Pemerintah menganjurkan untuk “kerja
di rumah”, dan segala kegiatan lainnya dikendalikan atau dikerjakan dari rumah.
Tentu saja sikap pemerintah ini menimbulkan pro dan kontra, ini biasa.
Ada yang menganggap lockdown itu penting sebagai salah satu cara mencegah penyebaran
virus. Maka secara swadaya masyarakat memberlakukan lockdown di wilayah tempat
tinggalnya. Menutup jalan masuk/keluar kampong. Ini adalah salah satu ciri
penduduk Nusantara. Selalu ada kreativitas warganya, walaupun secara resmi
tidak ada perintah. Bisa dibilang ini adalah kearifan lokal.
Selain itu ada
kegiatan lain sebagai usaha
mencegah penyebaran virus Corona. Yaitu penyemprotan cairan disinfektan.
Cairan disinfektan ini adalah yang diramu
dari aneka macam cairan diantaranya karbol, pemutih pakaian.
Penyemprotan dilakukan di jalan-jalan, untuk mematikan virus yang mungkin ada.
Terlepas dari efektif atau tidaknya, ini adalah cara mandiri dari warga sendiri
bukan diselenggarakan oleh negara.
Ada cara yang berbeda yang dilakukan oleh penduduk
Nusantara. Untuk yang berada di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu mengkonsumsi
sayur lodeh. Sayur lodeh adalah olahan sayuran berkuah santan yang terdiri dari
berbagai macam jenis sayuran. Untuk masa-masa yang sering disebut dengan “pagebluk”,
ada yang disebut dengan lodeh 7 rupa. Sayur lodeh yang terdiri dari 7 unsur
sayuran dan pelengkapnya. Angka 7 yang dalam bahasa Jawa disebut dengan “pitu” maksudnya adalah “ pitulungan” yaitu pertolongan. Memang, bangsa
jawa mempunyai budaya peradaban yang
unik seperti itu.
Lodeh 7 rupa tersebut terdiri dari kluwih, kacang
panjang, terong, kulit mlinjo, waluh, godong so ( daun melinjo) dan tempe. 7
unsur yang tersebut di atas juga bisa diuraikan satu per satu maknanya. Misalnya
kluwih itu maknanya bagaimana, dan seterusnya.
Mengkonsumsi lodeh 7 rupa ini konon adalah merupakan
perintah dari Sri Sultan , sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Walaupun
akhirnya diketahui bahwa pihak Kraton tidak member anjuran ataupun perintah tersebut. mungkin ada
pola yang diyakini bahwa ketika ada masa
susah yang sedang melanda, mengkonsumsi lodeh 7 rupa adalah salah satu obatnya.
Demikian, semoga segala upaya yang beraneka rupa ini
menjadi sarana musnahnya pandemic Corona. Amin

Belum ada Komentar untuk "Melawan Corona ala Nusantara"
Posting Komentar