Hati yang selesai

Hati yang selesai
Hanya 120 ribu saja, gratis ongkir Jawa Bali. Pesan via WA 0813 8769 9725.

Melawan Corona ala Nusantara

Sejak persebaran virus Corona yang semakin pesat meluas di berbagai negara, beberapa negara mulai menerapkan lockdown. Lockdown adalah  mengunci suatu kawasan  untuk mencegah masyarakatnya berpindah, masuk ataupum keluar. Keputusan untuk menerapkan lockdown ini secara resmi berada di otoritas tertinggi negara, misalnya Presiden. Belakangan muncul istilah dalam bahasa Indonesia yaitu     ” Karantina Wilayah “  yang kurang lebih maksudnya  juga sama.

Ada beberapa negara di dunia yang telah menerapkan lockdown di antaranya Tiongkok, Italia dan Spanyol. Sedangkan di Tanah Air Indonesia Adil Sejahtera untuk semua, Presiden tidak ataupun belum menyatakan secara jelas bahwa negara menerapkan lockdown. Pemerintah menganjurkan untuk “kerja di rumah”, dan segala kegiatan lainnya dikendalikan atau dikerjakan dari rumah. Tentu saja sikap pemerintah ini menimbulkan pro dan kontra, ini biasa.

Ada yang menganggap lockdown itu penting  sebagai salah satu cara mencegah penyebaran virus. Maka secara swadaya masyarakat memberlakukan lockdown di wilayah tempat tinggalnya. Menutup jalan masuk/keluar kampong. Ini adalah salah satu ciri penduduk Nusantara. Selalu ada kreativitas warganya, walaupun secara resmi tidak ada perintah. Bisa dibilang ini adalah kearifan lokal.

Selain itu ada  kegiatan lain sebagai usaha  mencegah penyebaran virus Corona. Yaitu penyemprotan cairan disinfektan. Cairan disinfektan ini adalah yang diramu  dari aneka macam cairan diantaranya karbol, pemutih pakaian. Penyemprotan dilakukan di jalan-jalan, untuk mematikan virus yang mungkin ada. Terlepas dari efektif atau tidaknya, ini adalah cara mandiri dari warga sendiri bukan diselenggarakan oleh negara.

Ada cara yang berbeda yang dilakukan oleh penduduk Nusantara. Untuk yang berada di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu mengkonsumsi sayur lodeh. Sayur lodeh adalah olahan sayuran berkuah santan yang terdiri dari berbagai macam jenis sayuran. Untuk masa-masa yang sering disebut dengan “pagebluk”, ada yang disebut dengan lodeh 7 rupa. Sayur lodeh yang terdiri dari 7 unsur sayuran dan pelengkapnya. Angka 7 yang dalam bahasa Jawa disebut dengan “pitu”  maksudnya adalah   “ pitulungan” yaitu pertolongan. Memang, bangsa jawa mempunyai budaya peradaban  yang unik  seperti itu.

Lodeh 7 rupa tersebut terdiri dari kluwih, kacang panjang, terong, kulit mlinjo, waluh, godong so ( daun melinjo) dan tempe. 7 unsur yang tersebut di atas juga bisa diuraikan satu per satu maknanya. Misalnya kluwih itu maknanya bagaimana, dan seterusnya.
Mengkonsumsi lodeh 7 rupa ini konon adalah merupakan perintah dari Sri Sultan , sebagai Raja Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Walaupun akhirnya diketahui bahwa pihak Kraton tidak member  anjuran ataupun perintah tersebut. mungkin ada pola yang diyakini bahwa ketika  ada masa susah yang sedang melanda, mengkonsumsi lodeh 7 rupa adalah salah satu obatnya.

Demikian, semoga segala upaya yang beraneka rupa ini menjadi sarana musnahnya pandemic Corona. Amin


Belum ada Komentar untuk "Melawan Corona ala Nusantara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel